Fenomenologi Sebagai Filsafat dan Usaha Kembali ke Permulaan

​Abstrak: Dalam pengantar pada karyanya Phenomenology of Perception, Merleau-Ponty praktis mengidentikkan filsafat dengan fenomenologi sebagai usaha untuk mempelajari kembali bagaimana cara melihat dunia. Dalam upaya tersebut ia mengajak pembaca, mengikuti slogan khas fenomenologi Husserl, untuk kembali ke permulaan atau benda-benda itu sendiri. Yang menarik adalah bahwa permulaan yang di-analisis oleh Merleau-Ponty justru tubuh manusia, sebuah dimensi yang cenderung dipandang rendah dalam sejarah filsafat Barat.

Ia tidak sendirian dalam hal ini, mengingat dalam fenomenologinya Levinas juga menekankan sensibilitas sebagai locus etika. Menurut penulis, gerakan fenomenologi menuju hal yang sensibel (the sensible) ini tidaklah mengubah hakikat filsafat sebagai usaha untuk mencari asal mula realitas. Realitas yang tersingkap dalam orientasi demikian justru menjadi lebih integral dan komprehensif daripada apa yang selama ini dikenal dalam sejarah filsafat dan sains. Meskipun demikian, orientasi pada pengalaman konkret manusia untuk menggali dasar realitas secara potensial menimbulkan masalah bagi fenomenologi itu sendiri yang selalu ingin kembali ke permulaan.

​Abstract: In the Preface to his work Phenomenology of Perception Merleau-Ponty virtually identifies philosophy with phenomenology as a way of relearning to see the world. For this purpose he invites the reader, following the catchphrase in Husserl’s phenomenology, to return to the beginning or the things themselves. What is interesting is that the beginning that Merleau-Ponty analyzes is the human body, which belongs to a dimension that tends to be despised in the history of Western philosophy.

He is not alone in this type of investigation, as Levinas also emphasizes sensibility as the locus of ethics. The author argues that the phenomenological movement towards the sensible does not alter the nature of philosophy as an attempt to seek for the nature of reality. The reality as disclosed in this analysis can be more integral and compre-hensive than what is usually presented in the history of philosophy and science. The orientation towards the concrete dimension of human life in search for the foundation of reality, however, may cause a problem for phenomenology itself insofar as it always tries to return to the beginning.

​E-Mail: thdtjaya@gmail.com


Save