Challenges, Implications and Inspirations for Philosophy of Tim Ingold’s Wayfaring

Abstract: Tim Ingold is known in contemporary Anglophone social anthropology to be an original thinker who dares to think outside the mainstream of the discipline. His anthropological works are philosophically informed and heavily influenced by phenomenology. They account for and pay heed to “life,” to the dynamism taking place in all the observed things, including non-living beings. Central to his anthropology of life is the notion of wayfaring.

This article purports to introduce this notion and to explore the challenges, implications and inspirations it has for philosophy while taking a critical stand towards Ingold’s account. It argues that the notion envisions citizens who have strong civic ties but at the same time can empathise with people of other countries. It argues furthermore that Ingold’s critique of philosophy as embedded in such a notion can serve as an inspiration for doing philosophy in a more fruitful way, i.e., doing philosophy as wayfaring.

Keywords: Wayfaring, logic of inversion, meshwork, armchair approach, philosophy-as-a-wayfaring.

Abstrak: Tim Ingold dikenal sebagai seorang antropolog sosial Anglofon kontemporer yang memiliki pemikiran orisinal dan berani berpikir di luar arus utama disiplin ilmunya. Karya-karya antropologisnya adalah karya yang melek filsafat and sangat dipengaruhi oleh fenomenologi. Karya-karya tersebut peka terhadap “kehidupan,” terhadap dinamika yang berlangsung pada setiap hal yang diamati, termasuk keberadaan yang tidak hidup. Salah satu konsep penting dalam pemikiran antropologisnya adalah pengembaraan.

Dalam artikel ini penulis bermaksud memperkenalkan konsep tersebut serta mengeksplorasi tantangan, implikasi, dan inspirasinya terhadap filsafat sambil mengritik beberapa klaim Ingold. Penulis berpendapat bahwa konsep tersebut menawarkan sebuah visi tentang warga negara yang memiliki identitas sipil dan ikatan antarwarga yang kuat, namun pada saat yang sama memiliki empati terhadap warga negeri lain. Selain itu, penulis melihat kritik yang dilancarkan Ingold terhadap filsafat sebagai sebuah inspirasi dan undangan untuk mencari jalan menuju sebuah cara berfilsafat yang lebih merunduk ke bumi dan berbela rasa: berfilsafat sebagai sebuah pengembaraan bersama dengan yang-lain dan penuh empati terhadap yanglain.

Kata-kata Kunci: Kembara, logika inversi, rajutan-jejaring-relasi-bersimpul-terbuka, pendekatan belakang-meja, filsafat-sebagai-kembara.

E-mail: bastianlimahekin@gmail.com