BUKU

 

Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi:
Tinjauan Teologis atas Lingkungan Hidup
Adrianus Sunarko, OFM & A. Eddy Kristiyanto, OFM (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2008, 230 p.)


Beriman dalam Dunia
B.S. Mardiatmadja, SJ
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 162 p.)

Paus Fransiskus sudah menunjukkan bahwa ajaran Konsili Vatikan II, khususnya Gaudium et Spes, benar-benar nyata dan dapat dilaksanakan secara sederhana. Ia mencium kaki narapidana, menyapa “geng motor”, menyentil rohaniwan dengan mobil mewah, menghukum monsinyur korup, mencium anak tuna-daksa, dan seterunya. Namun, ia juga menulis ensiklik. Semua disampaikan dengan “menyenangkan” sehingga orang-orang merasakan “gaudium” dan memiliki “spes” di tengah dunia yang hampir putus asa. Iman dapat diwujudkan di dunia sehingga “langit dan bumi yang baru” semakin dekat tergapai.


Pendidikan Multidimensional
Michael Sastrapratedja, SJ
(Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2015, 112 p.)

Pendidikan berkaitan erat dengan kebudayaan. Kebudayaan dapat dipandang sebagai aktivitas manusia dalam memberi arti pada dirinya, hubungan dengan sesama dan dunianya, sedangkan pendidikan merupakan pemberdayaan kemampuan atau kapabilitas manusia secara holistik. Kalau kita mencari dasar filosofis llmu Pendidikan dan praksis pendidikan, maka kita perlu merumuskan apakah manusia itu? Apakah dimensi-dimensi dasar manusia? Buku ini mengulas hal ini.

Secara khusus tulisan ini menyoroti perubahan pada pendidikan tinggi dan latar belakang budaya yang mempengaruhi. Tanpa disadari dunia kita telah berubah dari modernisme kepada postmodernisme. Tugas dari pendidikan tidak hanya meneruskan ilmu pengetahuan dan teknologi; tetapi juga membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah psikologi yang dihadapi.

Buku ini menyajikan ulasan mengenai logoterapi dan relevansinya bagi konseling di sekolah. Pendidikan harus pula menyiapkan peserta didik menjalankan perannya sebagai warganegara yang aktif berpartisipasi dalam negara demokratis. Pendidikan tidak hanya harus adil, tetapi juga harus merupakan “pendidikan untuk menciptakan keadilan”. Suatu praksis pendidikan yang memiliki visi pendidikan untuk transformasi sangatlah dibutuhkan.


Anthony Giddens. Suatu Pengantar
B. Herry-Priyono
(Jakarta: KPG, 2016, 112 p.)

Di Indonesia, Anthony Giddens lebih dikenal lewat pamfletnya, The Third Way, daripada lewat karya teoretiknya, The Constitution of Society (1984). Bila gagasan tentang Jalan Ketiga adalah hilir, judul yang terakhir disebut merupakan hulu dalam perjalanan intelektual Giddens. Buku kecil ini mengantar kita pada pokok-pokok pemikiran Giddens, yang bukan hanya penting bagi teori-teori ilmu sosial, tetapi juga berbagai praktik ekonomi, kebudayaan, tata negara, hukum, bahkan psikologi. Giddens dipandang sebagai pelopor dalam analisis yang mengatasi dikotomi antara ‘pelaku’ (agency) dan ‘struktur’ (structure). Sintesa teoretisnya disebut ‘teori strukturasi’ (structuration theory). Dalam bidang tata negara, pemikiran Giddens berpengaruh luas pada perkembangan New Labour di Inggris, dan juga partai-partai demokrasi sosial di berbagai negara. Giddens juga terlibat dalam jaringan ‘The Third Way Think-Tank‘ yang menghubungkan kelompok baru demokrat-sosialis di Eropa dan Amerika.