BUKU

Seni Memahami:
Hermeneutik Dari Schleiermacher sampai Derrida
F. Budi Hardiman
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 344 p.)

Buku ini dapat digunakan untuk memahami teori interpretasi pada umumnya dan untuk melengkapi studi filsafat, teologi, sastra, sosiologi, etnografi ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu politik. Tidak semua tokoh secara eksplisit menyentuh persoalan interpretasi skriptural. Schleiermacher, Bultmann dan Ricoeur memang sibuk dengan kitab suci. Namun Dilthey mengembangkan hermeneutik untuk metode ilmiah, Heidegger untuk ontologi, Gadamer untuk pemahaman manusia dan kebudayaan pada umumnya, Habermas untuk kritik ideologi, dan Derrida untuk dekonstruksi metafisika. Tentu persinggungan mereka dengan eksegesis tidak dapat dihindarkan juga.


Menjadi Gereja yang Berjalan Bersama Papua:
Narasi Historis 50 Tahun Terakhir Keuskupan Jayapura
A. Eddy Kristiyanto, OFM
(Jakarta: Penerbit Obor, 2017, 544 p.)

Peringatan 50 tahun berdirinya Keuskupan merupakan momentum yang tepat untuk melihat kembali proses menggereja umat Allah di Kusukupan ini. Buku ini mengenai sejarah berdirinya Keuskupan Jayapura sejak 1966. Penulis menyajikan sejarah itu dengan gaya narasi, dengan berkisah. Ia tidak berkisah tentang data dan tentang peristiwa sejarah secara kronologis, seperti mungkin dinantikan orang yang memahami secara secara demikian. Data serta sejarah memang tidak diabaikan tetapi penulis menuliskan tentang apa yang ada dibalik data dan peristiwa. Ia bertutur tentang gagsan pastoral yang dikembangakan dalam berbagai bidang kehidupan Gereja. Untuk membuat gagasan lebih menonjol dan jelas, ia menyelipkan dalam kisahnya gagasan  itu dari sumber lain dan dari waktu yang lain atau pandangan para tokoh tertentu di luar Keuskupan Jayapura. Dengan begiru perjalanan menggereja Keuskupan Jayapura menjadi lebih kaya, luas, dan dalam berkat peristiwa, pikiran, dan kisah lain yang ditampilkan di latar belakangnya. – Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura)


Seandainya Indonesia Tanpa Katolik:
Jalan Merawat Ingatan
A. Eddy Kristiyanto OFM
(Jakarta: Penerbit Obor, 2015, 304 p.)

Kandungan dalam masa lampau perlu diurai. Apalagi semakin baik masa lalu diketahui, semakin siap masa depan diarahkan dan diisi. Begitulah kalau ingatan itu terawat, terutama ingatan akan segala sesuatu yang bernilai.

Merawat ingatan itulah pembebasan! Sebab merawat itu sikap menerima dan memberi makna positif atas segala sesuatu yang sudah tidak dapat diubah. Itulah nilai menjadi Katolik dalam masyarakat yang majemuk, Indonesia.

Andai kata Indonesia tanpa Katolik, ITU BUKAN INDONESIA!

***

Buku ini hendak menelusuri kembali jejak-jejak Kekatolikan dalam sejarah Indonesia dan peran Katolik dalam rangka “menjadi(kan) Indonesia”. Sebuah kajian historis yang penting dalam mereposisi pola relasi negara dan agama agar sungguh menjadi “rumah damai” bagi semua!


Multikulturalisme:
Kekayaan dan Tantangannya di Indonesia
A. Eddy Kristiyanto OFM & William Chang OFMCap (editor)
(Jakarta: Penerbit Obor, 2014, 192 p.)

Letak geografis Indonesia yang sangat terbuka seakan “mengharuskan” Indonesia untuk terbuka terhadap kebaikan, keluhuran yang berasal dari luar Indonesia, tanpa menyepelekan dan tidak mengabaikan khazanah kita sendiri. Dinamika yang hidup dalam kebudayaan kita yang multikultural ini justru terjadi dalam interaksi serta perjumpaan dengan budaya-budaya lain.

Buku ini mengulas pemikiran tentang multikulturalisme dalam konteks situasi konkret Indonesia kini. Refleksi-refleksi teologis dan pemikiran-pemikiran segar yang dilontarkan di sini sangat menantang bagi cara kita menjadi Indonesia, justru karena multikulturalisme menyangkut soal mentalitas, kebudayaan, moral, tradisi, dan filosofi (alam pikiran), bahkan identitas dan karakter kita bersama sebagai bangsa.