BUKU

Franz Magnis-Suseno:
Sosok dan Pemikirannya
80 Tahun Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ
F. Budi Hardiman (editor)
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2017, 342 p.)

Franz Magnis-Susesno telah banyak menulis bidang filsafat, etika dialog antaragama, teologi. Seluruh tulisannya telah membuka pemikiran kritis dalam masyarakat kita. Pemikirannya melampaui tema-tema akademis filsafat, menjangkau masalah paling mendesak, seperti ancaman komunisme, krisis kebangsaan, konflik etnis, radikalisme agama, penggusuran, dan berbagai masalah kemanusiaan lainnya. Semua ini ditinjau dari pendekatan etika.

Magnis-Suseno dikenal sebagai rohaniwan dan tokoh lintas agama, tetapi juga giat memperjuangkan demokrasi, toleransi, dan hak-hak asasi manusia di dalam masyarakat kita yang majemuk ini.

Buku ini ditulis oleh para sahabatnya yang memberi komentar rinci dan mendalam atas pemikiran-pemikirannya. Misalnya, tragedi ’65, Pancasila, etika dialog antaragama, teologi, filsafat ketuhanan, kosmologi, etika umum, filsfafat politik, dan kultur Jawa. Melalui seluruh tulisan dalam buku ini tampak bahwa filsafat dapat membantu kita untuk merespons persoalan-persoalan besar yang mendera bangsa dan masyarakat kita.


Dengan Nalar dan Nurani:
Tuhan, Manusia, dan Kebenaran
65 Tahun Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ
F. Budi Hardiman (editor)
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2017, 253 p.)

Ketika mengarahkan pikiran ke atas langit berbintang, ke dalam diri, dan di antara orang-orang lain, para filsuf merasa takjub, heran, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pergulatan pemikiran pun dimulai dan bergerak sampai ke tepi-tepi horizon pengetahuan untuk menemukan hal-hal yang paling mendasar dalam segala sesuatu.

Apakah itu Tuhan? Bagaimana kaitan antara ateisme dan etika? Mengapa Tuhan juga dipersoalkan dalam kosmologi kontemporer? Masih perlukah membela kemanusiaan? Bagaimana manusia dibebaskan secara spiritual? Mengapa kebenaran “objektif” adalah ketidakbenaran? Lalu, bagaimana mencegah tafsir subjektif?

Buku ini adalah percobaan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mulai dengan menjelajahi pengalaman religius, menguak hakikat Tuhan, menelusuri lika-liku kesadaran religius, hingga mempersoalkan kebebasan Tuhan, buku ini juga menghadapkan pembaca dengan paham kemanusiaan dan pembebasan spiritual manusia, sebelum akhirnya membedah persoalan kebenaran, teori interpretasi, dan problem etis korupsi dan pemberian grasi.


Membaca Rupa Wajah Kebudayaan
Mudji Sutrisno SJ
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 236 p.)

Kebudayaan sebagai tindakan yang diberi makna oleh manusia, entah ia orang biasa maupun “orang terpelajar” akan selalu menampilkan “wajah-wajah”-nya bagi sesama. Karena itu di tangan para terpelajar dibuatlah sistematisasi rasional kebudayaan sebagai sistem makna yang diacu manusia untuk memaknai perjalanan hidupnya. Mulai dari Cliffort Geertz, Talcot Parsons, para fungsionalis menegaskan pentingnya “fungsi kebudayaan” dalam masyarakat. Sebagai proses memberi makna pada hidupnya, manusia menjadi subjek pelaku dan menyadari kebudayaan adalah kerja atau laku tindakan. Sebagai buah-buah tindakan memaknai maka muncullah karya-karya budaya. Baik sebagai proses maupun sebagai hasil; sesama-sesama pelaku kebudayaan yang sama-sama the signifying creatures atau homo significans, akan menampilkan wajah-wajah kebudayaan itu. Buku ini sekaligus menandai 60 tahun penulis berusaha mengumpulkan esai-esai wajah-wajah kebudayaan itu.


Krisis Peradaban
Mudji Sutrisno SJ
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 248 p.)

Buku ini mengupas tentang berbagai krisis peradaban di bumi Indonesia, dilengkapi dengan kisah-kisah yang menggambarkan berbagai krisis tersebut. Sudut pandang penilaian dari segi budaya kental mewarnai buku ini. Berbagai pertanyaan disodorkan untuk menyadarkan kita agar mampu mengontrol diri dengan pembatinan dan membiasakan bersikap dan bertindak dengan nurani jernih dan budi cerdas untuk kesejahteraan bersama pada jalan peradaban pencerahan jangka panjang.