BUKU

Ketika Salib Terasa Berat:
60 Inspirasi Kitab Suci dalam Perjuangan di Tengah Penderitaan

Josep Susanto
(Jakarta: Penerbit Obor, 2017)

Kuasa kasih Tuhan telah menemani dan menopang tokoh-tokoh dalam Kitab Suci di tengah penderitaannya. Setiap guratan pena dalam buku ini pun terlahir dari pergulatan hidup dan pencarian makna penderitaan dari penulis sendiri dan umat yang dilayaninya, di tengah panggilannya sebagai Pastor, pelayan umat, sekaligus sebagai anak di tengah keluarga.

Di tengah kesesakannya dalam menjalani maupun melihat penderitaan orang-orang yang dilayani dan dikasihinya, penulis menemukan kekuatan dalam firman Tuhan sebagai kekuatan yang tak terbantahkan. Sabda Ilahi dalam Kitab Suci terbukti telah dengan jujur dan setia menemani setiap insan untuk mencari jalan keluar dari setiap tetes air matanya atau hanya untuk sekedar bertahan di tengah gempuran penderitaan yang bertubi-tubi. Buku ini menginpirasi Anda!


Surviving The “Dai Nippon”:
Gereja Katolik Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

Simon Petrus Lili Tjahjadi
(Jakarta: Penerbit Obor, 2017, 328 p.)

Meskipun mengalami aneka pembatasan dan tekanan, Gereja Katolik pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) telah tampil sebagai sosok Gereja-pribumi yang kuat dan liat, tanpa bantuan Barat. Tokoh-tokoh utamanya adalah umat, bukan figur imamat atau tarekat. Mereka adalah Gereja pribumi yang percaya diri menanggung segala uji dan kelak  menjadi inspirasi dan referensi saat 1970-an terjadi diskusi tentang Indonesianisasi Gereja di Bumi Pertiwi.

Kehidupan Gereja Katolik Indonesia pada zaman penjajahan Jepang ibarat lembaran buku sejarah yang hilang. Dibandingkan dengan narasi historis tentang Gereja Katolik pada umumnya yang sering tampil sebagai kisah gemilang tarekat misionaris Belanda dan tokohnya tempo ‘doeloe’, sejarah Gereja Katolik pada masa Jepang, belum terungkap lugas. Kalau pun ada cerita tentangnya, nada dasar yang dilantunkan di sana adalah kemuraman dan rasa pilu lantaran para misionaris asing ditawan, lalu misi pun jadi mandeg.

Tetapi jika demikian, muncul pertanyaan:

  • Apakah sejarah Gereja Indonesia yang intinya memuat pewartaan Injil atau Kabar Sukacita harus diidentikkan dengan kisah tentang misi Belanda yang gemilang itu?
  • Kalau Gereja sungguh umat Allah, berhentikah gerak urat nadi Gereja Katolik Indonesia dengan ditawannya para misionaris, penggerak utama karya Gereja waktu itu?
  • Mampukah umat menyintas (survive) cengkraman kekuasaan Jepang dan sistem represifnya?
  • Manakah inspirasi yang bisa kita timba dari perjuangan umat Katolik pada masa itu?

Buku ini merupakan buku pertama tentang sejarah Gereja Katolik pada masa pendudukan Jepang Raya (Dai Nippon), yang ditulis secara lugas, komperehensif dan sistematik, berdasarkan literatur mutakhir, termasuk sumber asli berbahasa Belanda dan Jepang.


Mission Breakthrough:
Narasi Kecil Imam Diosesan di Indonesia

Simon Petrus Lili Tjahjadi
(Jakarta: Penerbit Obor, 2014, 240 p.)

Dalam Gereja Katolik, Imam praja atau imam diosesan mengawali berdirinya Umat Katolik yang pertama di nusantara (1534) oleh Pastor Simon Vaz, martir pertama di Morotai. Lalu para praja Belanda di Abad XIX membarui dan merintis berdirinya Hierarki Gereja Indonesia kelak. Pada masa pendudukan Jepang, saat semua misionaris asing di tawan, segelintir praja pribumi mengambil alih praktis semua pekerjaan misionaris. Juga saat perang pasca proklamasi mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda, mereka berada di barisan rakyat dan pejuang Indonesia.

Hingga sekarang imam praja berkarya dalam aneka bidang kerasulan. Umat katolik mengenal mereka, a.I. Rm. Sandjaja (martir Indonesia), Rm. Mangunwijaya (budayawan, pendidik, arsitek, pejuang HAM), Rm. Lugano (Pastor kaum nelayan), Mgr. Ignatius Suharyo (Uskup dan cendekiawan), Rm. Benny Susetyo (pengamat sosial-politik), P. Neles Tebay dan P. Djonga (pejuang dialog dan HAM di Papua, peraih berbagai penghargaan), P. Rantinus Manalu (pejuang nasib petani di Sibolga), P. Jimmy Tumbelaka dan P. Agus Uluhayanan (rekonsiliasi konflik di Poso dan Ambon).

Siapa itu imam diosesan? Bagaimana sejarahnya? Mana tantangannya? Apa spiritualitas yang menggerakkannya menjalankan misi terobosan (mission breakthrough)?

Secara singkat-padat buku ini membahas tentang mereka yang sebagai imam pribumi di tanah-airnya sendiri pernah distigmatisasi “tweede klas priester” (imam kelas dua) oleh Gereja Kolonial.


Maranatha
B.S. Mardiatmadja
(Yogyakarta: Kanisius, 2017)

Para murid Kristus, kerap menggunakan masa Adven untuk secara khusus menyiapkan Pesta Natal dengan mengenangkan kedatangan Tuhan (yang pertama). Ungkapan Maranatha mirip dengan salah satu nyanyian: yang senada dengan Kumbayah (“Datanglah, Tuhan”). Tradisi yang baik tersebut masih dipertahankan sampai sekarang. Dalam hal itu, St. Sirilus dari Yerusalem, dirujuk oleh bacaan Ibadat Harian pada Minggu Pertama Adven, untuk mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita diajak juga untuk menantikan kedatangan Tuhan yang kedua. Sesungguhnya ajakan itu sudah selalu kita dengar setiap kita merayakan Ekaristi. Seruan sesudah Konsekrasi menyebutkan: “Wafat-Mu kami kenang, ya Tuhan yang bangkit mulia, datanglah, umat-Mu menanti, penuh iman dan harapan”. . .