BUKU

Manusia Multi Dimensional:
Sebuah Renungan Filsafat
M. Sastrapratedja (editor)
(Jakarta: Gramedia, 1983, 199 p.)

Setiap kurun waktu dalam perjalanan sejarah umat manusia senantiasa ditandai dengan usaha khas manusia untuk memahami dirinya sendiri. Para pemikir dari waktu ke waktu terhendak dalam renungan yang berusaha menjawab pertanyaan “Siapakah manusia itu”.

Begitu pula pemikir-pemikir modern tetap terlibat dalam pertanyaan yang sama. Karena pertanyaan itu adalah langkah awal dari usaha yang terus menerus mencari dan menemukan jawaban. Ada pemikir yang gagal memberikan jawaban, tetapi ada pula yang berhasil membangun gambaran tentang hakikat manusia. Berhasilkah manusia modern menangkap gambaran manusia yang utuh dan sempurna?

Buku ini memperkenalkan hasil renungan delapan filsuf tentang pengalaman manusiawi. Mereka adalah filsuf-filsuf modern yang menempatkan pengalaman manusiawi sebagai pokok utama renungannya. Nietzsche, Albert Camus, Mircea Eliade, Karl Jaspers, Susanne K. Langer, Karl R. Popper, Jose Ortega Y Gasset dan Herbert Marcuse adalah filsuf-filsuf terkenal tetapi kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Ternyata struktur pengalaman manusia menampilkan banyak dimensi: religius, simbolis, historis dan lain-lain. Itulah penemuan mereka, yang membantu mahasiswa psikologi, ilmu-ilmu sosial, antropologi, filsafat dan teologi untuk mendapat gambaran yang lebih utuh tentang manusia.

Sesudah menelusuri renungan delapan filsuf yang menerima adanya gambaran manusia multi dimensional, para pembaca akan lebih diperkaya dengan pandangan yang lebih luas dan mendalam tentang manusia.


Garuda im Aufwind:
Das moderne Indonesien
Franz Magnis-Suseno
(München: Peter Kindt, 1989)

Indonesien ist ein Staat mit 250 Millionen Einwohnern, die meisten von ihnen Muslime. Doch was wissen wir über die Geschichte, Kultur und Politik dieses big player in Südostasien, 2015 Gastland der Frankfurter Buchmesse? Diese leicht verständliche Einführung gibt Antworten. Garuda, das mythische Wappentier des Landes, symbolisiert Indonesiens Aufstieg zur drittgrößten Demokratie der Welt, die im 21. Jahrhundert ihren Weg zwischen Tradition und Moderne sucht.

Der Philosoph, Politikberater und Jesuit Franz Magnis-Suseno lebt seit mehr als fünf Jahrzenten in Indonesien. Er beschreibt, welche schweren Erschütterungen dieses Land in seiner 70-jährigen Geschichte gemeistert hat, skizziert die 16 turbulenten Jahre nach dem Sturz von Diktator Suharto 1998 und stellt die Entwicklung Indonesiens in den Kontext seiner Geschichte und Kultur. Wie entstand diese relativ junge Nation? Welche Bedeutung haben der berühmte »Jugendschwur« und die Pancasila-Philosophie? Magnis-Suseno erklärt die Einflüsse der javanischen Kultur in Indonesien, beschäftigt sich eingehend mit dem Islam und geht am Ende auf die Frage ein, wie die Zukunft dieses beeindruckenden Landes im Angesicht von Globalisierung und politischer Radikalisierung aussehen könnte.


Pancasila sebagai Ideologi Terbuka:
Problema dan Tantangannya
Alex Lanur (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2005, 140 p.)

Buku ini mendokumentasikan makalah-makalah hasil seminar “Refleksi Menjelang 50 Tahun Pancasila sebagai Ideologi Terbuka” dalam rangka Dies Natalis STF Driyarkara yang ke-25. Selain itu ditambah dua karangan lain dari luar seminar yang bertitik tolak pada tema yang sama dan senada, untuk menambah kekayaan pandangan atas Pancasila.


Panggilan Hidup Manusia
B.S. Mardiatmadja, SJ
(Yogyakarta: Kanisius, 2000 [edisi pertama: 1982], 92 p.)

Buku ini membahas dasar-dasar kehidupan manusia yaitu: “Manusia dan Sesamanya”, “Dinamika Manusia”, dan “Manusia dan Yang Ilahi”.


Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save