BUKU

Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan
Tim Redaksi Driyarkara (editor)
(Jakarta: Gramedia, 1993, 279 p.)

Seri Filsafat Driyarkara 6

Dengan menggunakan optik tema-tema besar yang menjadi minat para pemikir sampai abad XX buku ini mencoba menggelar refleksi-refleksi filosofis yang dampaknya sampai sekarang. Terutama disoroti pergulatan manusia di atas panggung permasalahan politik dan eksistensi manusia itu sendiri. Bagian pertama berbicara mengenai krisis makna, debat sekitar kebudayaan dan struktur, konsep hegemoni Gramsci, arah perkembangan masyarakat modern, maupun Teori Keadilan dari John Rawls yang mendapat perhatian dua dasawarsa terakhir ini. Sedangkan bagian kedua mencoba mengangkat refleksi atas problem mendasar manusia seputar konsep pemberontakan Albert Camus, pencarian nilai, agama dan juga problem yang sering hanya menjadi wilayah kaum profesional yaitu kematian yang dikupas secara ilmiah.


Normative Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx 1843-1848
Franz von Magnis
(München: Alber, 1975, 429 p.)


Wayang dan Panggilan Manusia
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 1991, 105 p.)

Dalam wayang, kita bisa bercermin tentang kehidupan dan kelakuan kita. Moral wayang merupakan moral yang konkret, dan karena itu bersifat kompleks; tidak simplistis, tidak serta-merta mencap hitam-putih, baik-buruk, benar-salah. Moral wayang memberi kita pengertian tentang keluasan permasalahan, ambiguitas, dan kompleksitas hidup; serta menunjukkan problematika eksistensi dan membuka realitas secara lebih mendalam. Karena itulah, wayang begitu dekat dengan hidup nyata kita.

Dalam buku ini, Franz Magnis-Suseno, merefleksikan secara jernih dan lugas hidup manusia yang tersirat dalam wayang: Apa kita dapat seenaknya membagi manusia ke dalam mereka yang baik dan mereka yang buruk? Apa kita sendiri termasuk Pandawa atau Kurawa, ataukah keduanya ada dalam diri kita?

Kemudian, refleksi atas Semar, membawa kita ke masalah etika sosial: raja dan ksatria bersama seluruh keluhurannya ternyata tak berarti apa-apa tanpa rakyat kecil. Dengan demikian tak ada lagi dasar mentalitas pengayuh sepeda: bungkuk ke atas, tendang ke bawah. Di sini, pencarian kekuasaan atau kesaktian diletakkan pada proporsinya.

Akhirnya, digugatlah etika harmoni atau keselarasan dengan adagium, “rukun tidak rukun asal adil”.


Kuasa dan Moral
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 1986, 174 p.)

Sebagai filosof sosial dan ahli etika pilitik, Franz Magnis-Suseno memaparkan dengan gamblang, bahwa setiap usaha untuk memisahkan kekuasaan dan moralitas akan menggerogoti dan kekuasaan itu dari dalam. Kekuasaan akan stabil kalau sah secara moral. Di tengah politik uang dan politik teror, buku ini bagai cermin yang memantulkan ironi-ironi wajah bopeng kekuasaan, yang menggugah kesadaran kita untuk selalu kritis terhadap kekuasaan politik yang mengitari hidup kita.