BUKU

Mencari Sosok Demokrasi:
Sebuah Telaah Filosofis
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 1995, 146 p.)

50 Tahun sesudah bangsa Indonesia merdeka, sosok demokrasi yang kita cita-citakan masih dalam pencarian. Itulah titik tolak buku ini. Sejak lebih dari 70 tahun para tokoh dan pemikir bangsa Indonesia menyatakan keyakinan mereka bahwa Indonesia Merdeka harus demokratis. Bertolak dari konteks itu Magnis-Suseno menggali kembali arti dasar dan hakikat demokrasi. Kemudian ia bertanya: Apa yang dapat disumbangkan oleh etika politik untuk menjernihkan kembali pertanyaan tentang sosok Demokrasi Indonesia? Magnis-Suseno juga menyajikan tema-tema yang amat relevan bagi diskursus politik Indonesia setelah 50 tahun kemerdekannya, yaitu: Kedudukan Presiden; Interpretasi Pasal 28 UUD 1945; Kebebasan Pers; Kebebasan Berserikat; Berasosiasi; dan Membentuk Partai Baru, dan Peran ABRI.


Filsafat – Kebudayaan – Politik:
Butir-Butir Pemikiran Kritis
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 1992, 264 p.)

Menurut Hegel, filsafat adalah perumusan zaman dalam bentuk pikiran. Dalam buku ini, Magnis-Suseno merefleksikan secara terang, kritis, dan positif, sebagian dari tantangan etis dan kemanusiaan yang dihadapi bangsa Indonesia selama duapuluh tahun terakhir: dalam filsafat dan etika kedokteran, di bidang seni, budaya nasional, agama dan kenegaraan, tuntutan hak asasi manusia, keadilan sosial, dan solidaritas bangsa.

Membaca buku Filsafat – Kebudayaan – Politik ini kita akan lebih mengerti mengapa penulis pernah mengatakan bahwa filsafat itu menggonggong, mengganggu dan menggigit. Dengan lantang dan berani penulis mengemukakan analisisnya; dan dalam arti itu ia mengganggu berbagai bentuk kemapanan. Ia sungguh “menggigit” kalau misalnya rumus-rumus luhur dipakai untuk menyelubungi ketidakadilan. Kendati demikian, dalam buku ini penulis tidak pertama-tama menawarkan jawaban, melainkan merangsang pembaca untuk memikirkan sendiri masalah-masalah yang kita hadapi. Dan, memang, buku Filsafat – Kebudayaan – Politik ini terutama dimaksudkan bagi mereka yang mau berpikir sendiri lebih lanjut.


Berfilsafat dari Konteks
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 1991, 247 p.)

Dalam 16 karangan yang termuat dalam buku ini Franz Magnis-Suseno menuliskan refleksi filosofis atas pelbagai masalah dan pertanyaan yang muncul dalam masyakat intelektual Indonesia selama 15 tahun terakhir ini. Buku ini adalah contoh usaha filsafat yang menimba persoalannya dari konteks permasalahan sosial yang nyata. Franz Magnis-Suseno tidak sekadar manyajikan analisis bebas nilai, melainkan selalu dengan jelas mengargumentasikan pendapatnya. Pokok-pokok yang dibahas termasuk kedudukan filsafat sendiri, tantangan martabat manusia, implikasi keruntuhan komunisme di Eropa Timur, masalah etos kerja dari beberapa segi, eutanasia, masalah penggunaan kekerasan untuk mewujudkan keadilan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.


Filsafat Ilmu Pengetahuan:
Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu
C. Verhaak – R. Haryono Imam
(Jakarta: Gramedia, 1991, 205 p.)

Seri Filsafat Driyarkara 1

Buku ini menggunakan pendekatan tematis dan historis untuk membahas logika sabagai sarana berpikir dan bekerja dalam ilmu pengetahuan, cara kerja pelbagai ilmu, dan perkembangan filsafat ilmu secara historis. Dalam buku ini, ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk yang tinggal dikonsumsi, melainkan sebagai aktivitas yang menandai proses yang senantiasa berubah. Keterbukaan terus-menerus menjadi semangat buku ini untuk mendekati dan menandai seluruh usaha keilmuan yang mengubah kebudayaan manusia hingga saat ini. Di sisi lain, buku ini juga dengan penuh keprihatinan melihat dampak negatif ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku dengan uraian cukup padat dan ketat ini adalah bacaan wajib bagi para ilmuan, kaum intelektual, mahasiswa serta siapa saja yang mau mengembangkan sikap terbuka dan kesenangan akan ilmu dalam rangka memperluas wawasan dan memperdalam visi.