BUKU

Dalam Bayang-Bayang Lenin:
Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 2016, 280 p.)

Selama tiga perempat abad, komunisme menjadi salah satu kekuatan politik abad ke-20 yang paling ditakuti. Sepertiga umat manusia pernah hidup di bawah bayang-bayangnya. Orang yang paling berperan dalam Revolusi Oktober dan yang membuka babak komunisme dunia adalah Vladimir Ilyic Lenin. Dalam buku ini, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ menguraikan butir-butir terpenting pemikiran Lenin. Uraiannya semakin lengkap dengan paparan mengenai lima tokoh lain pemikir Marxis-Leninis independen yang paling cemerlang. Leon Trotsky dengan teori Revolusi Permanen. Georg Lukàcs dengan History and Class Consciousness, buku Marxisme paling berpengaruh. Karl Korsch yang merehabilitasikan hakikat filosofis teori Karl Marx. Antonio Gramsci yang menemukan kembali faktor hegemoni intelektual. Tan Malaka dengan karya raksasanya, Madilog. Secara kritis dan tajam diulas bagaimana konsepsi Lenin yang mencita-citakan penghapusan segala ketertindasan justru menjadi sistem kekuasaan paling totaliter dalam sejarah umat manusia.


Pemikiran Karl Marx:
Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 2016, 308 p.)

“Marxisme”, karena dilebih-lebihkan, telah menjadi momok yang menakutkan sebagai sarana pembebasan umat manusia dari ketidakadilan maupun sebagai sumber segala subversi. Dalam buku ini, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ menjelaskan pokok-pokok pemikiran Marx secara objektif dan kritis. Setelah mengemukakan bentuk-bentuk sosialisme “utopis” yang mendahului Marx, ia kemudian menelusuri perkembangan dalam pemikiran Marx: dari paham Marx muda tentang peran filsafat kritis dan keterasingan manusia sampai terbentuknya teori tentang hukum-hukum yang mendasari perubahan masyarakat dan kritik terhadap kapitalisme. Selanjutnya, ia menggariskan kembali bagaimana ajaran Marx menjadi “Marxisme”, ideologi perjuangan kaum buruh, serta memperkenalkan aliran-aliran terpenting dalam Marxisme. Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya diajarkan oleh Marx serta membentuk penilaian kritis sendiri tentangnya akan sangat terbantu oleh buku ini, tanpa terjebak oleh jargon-jargon yang serta-merta mengutuk maupun memuji Marxisme, yang sebenarnya hanya untuk menyelamatkan kepentingan-kepentingan sempit tertentu.


Berebut Jiwa Bangsa:
Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015, 400 p.)

Apa itu Bangsa Indonesia? Masih Adakah nilai-nilai bangsa dan perlukah dipertahankan eksistensinya? Setiap bangsa tentu punya persoalan. Celakanya di Indonesia, persoalan itu oleh pemerintah dan elite politik ditangani secara sembarangan dan lebih banyak mengurbankan kepentingan rakyat kecil.

Buku Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan berisi gagasan dan pandangan perihal berbagai persoalan yang menghujani nilai dan visi kebangsaan Indonesia sejak Orde Baru. Mulai dari ancaman disintegrasi, korupsi, penggusuran rakyat kecil, dialog antarumat beragama, hingga pembangunan kesejahteraan umum seperti jaringan transportasi sampai harga bahan bakar minyak.

Penulis menyampaikan saran dan kritiknya dengan argumentasi yang sehat dan nalar. Karena itulah, buku ini bisa memberikan optimisme dan semangat untuk memperbaiki dan merajut kembali nilai-nilai keindonesiaan. Sebuah bacaan wajib bagi mereka yang tetap cinta keindonesiaan dan bertekad membangunnya dengan penuh kejujuran dan tanpa diskriminasi.

Andaikata rasa kebangsaan itu mati, bangsa Indonesia akan mati dan negara hancur. Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, hanyalah kebangsaan Indonesia tak ada lain. Tak ada yang dapat menggantikan rasa kebangsaan.


Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme:
Bunga Rampai Etika Politik Aktual
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015, 278 p.)

Franz Magnis-Suseno menanggapi sekian masalah yang dihadapi bangsa Indonesia delapan tahun terakhir ini. Ada tulisan tentang demokrasi dan pluralisme, Supersemar, kekerasan atas nama agama, undang-undang penodaan agama dan anti-pornografi. Juga tantangan terorisme, sikap terhadap kejahatan pasca-G30S, filsafat wayang, hukuman mati, dan eksekusi Tibo dkk. Termasuk tantangan Papua bagi bangsa Indonesia, Pancasila, soal tenaga nuklir, sampai masalah mengantuk.

Seluruh tulisan ini dilihat dari sudut pandang etika. Penulis mempertanyakan bagaimana sikap-sikap dan kejadian-kejadian itu dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Tulisan-tulisan ini dimaksud sebagai ajakan agar sebanyak mungkin saudara dan saudari sebangsa melibatkan diri secara kritis, penuh komitmen, dan semangat positif pada kemajuan bangsa Indonesia.

Kalau kita mengharapkan agar bangsa Indonesia menempuh jalan ke masa depan secara terhormat, dengan tidak mengurbankan integritasnya, atas dasar kemanusiaan yang adil yang beradab, kita harus mengatasi sudut pandang yang semata-mata pragmatis karena pragmatisme pada akhirnya adalah sudut pandang kepentingan mereka yang kuat dan kuasa.