BUKU

Etika Politik:
Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern
Franz Magnis-Suseno
(Jakarta: Gramedia, 2016, 566 p.)

Pola kenegaraan modern berkembang bersamaan dengan revolusi ekonomi, sosial, dan budaya yang berlangsung di Eropa Barat tiga ratus tahun yang lalu dan mendapat ungkapan yang paling mengesankan dalam perwujudan masyarakat industrial dan pasca-industrial saat ini. Salah satu pertanyaan inti etika politik dewasa ini terkait dengan legitimasi kekuasaan. Klaim-klaim kenegaraan modern yang bercorak multidimensional dan kontroversial menuntut refleksi filosofis atas prinsip-prinsip dasar kehidupan politik, baik dalam dimensi hukum maupun kekuasaan. Analisis inilah yang menjadi tema utama dalam buku Etika Politik ini. Prof. Dr. Magnis-Suseno, SJ dengan lugas membahas pokok-pokok tentang metode etika politik, legitimasi kekuasaan, hukum kodrat dan positivisme hukum, hak-hak asasi manusia, negara dan ideologi, kebebasan dan kesamaan, hingga negara hukum demokratis dengan menyertakan gagasan-gagasan utama dari tokoh-tokoh filsafat politik seperti Aquinas, Hobbes, Locke, Rousseau, Hegel, dan Marx. Relevansi buku ini tidak terbantahkan untuk siapa pun yang ingin memahami persoalan etika dan politik; untuk siapa pun yang ingin memahami masalah masalah-masalah ideologis secara kritis dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.


Paideia:
Filsafat Pendidikan-Politik Platon

A. Setyo Wibowo
(Yogyakarta: Kanisius, 2017, 308 p., ISBN 978-979-21-5147-3)

Filsafat politik Platon menawarkan pendidikan sebagai kunci untuk mereformasi masyarakat. Pendidikan sebagai pembudayaan (paideia) mengorientasikan hasrat anak-anak yang berbakat menjadi pemimpin ke arah Kebaikan. Pada usia dini, dimensi pra-rasional diolah lewat musik dan gimnastik supaya calon pemimpin memiliki kepekaan pada harmoni (yang indah dan baik). Setelah hasrat terbentuk, kurikulum selanjutnya adalah pendidikan ilmu-ilmu teoretik dan seni berdiskusi. Hanya dengan cara ini para filsuf Raja dan Ratu yang bijak, pemberani, ugahari, dan adil bisa muncul untuk membaharui tatanan masyarakatnya.

Paideia adalah jalan klasik guna mereformasi tatanan politik. Paideia menyiapkan munculnya figur pemimpin yang bisa menyedot banyak orang guna mengikuti keteladanannya. Di tengah iklim priyayi despotik yang menyelinap lewat ideologi keras agama yang mengancam bangsa ini, paideia adalah upaya kultural di mana lewat pintu paternalisme kita hendak merawat demokrasi.


Gaya Filsafat Nietzsche
A. Setyo Wibowo
(Yogyakarta: Kanisius, 2017, 440 p.)

Nietzsche itu menarik. Gaya dia menulis provokatif, memberi insight yang entah bagaimana bertautan satu sama lainnya dalam mengatasi kehidupan. Kalua kemudian dalam wacana filosofis muncul Nietzsche-Jerman, Nietzsche-Anglo-Amerika, itu hanyalah menunjukkan betapa resonansi pemikiran yang satu ini melampaui keterbatasan konteks Nietzsche historis.

Gaya Filsafat Nietzsche ditulis terutama dengan mendasarkan diri pada empat paragraph Kata Pengantar untuk Pengetahuan Yang Mengasyikkan(Die froehliche Wissenschaft: “La Gaya Scienza”, bahasa Inggrisnya The Gay Science, disingkat GS). Dengan memberi judul Gaya Filsafat Nietzsche, artinya buku ini berpretensi menemukan keutuhan pemikiran. Pretensi yang barangkali bagi beberapa orang akan tampak terlalu berlebihan. Penulis akan berusaha meminimalisir pretense tersebut dengan banyak membiarkan Nietzsche menjadi pembela bagi dirinya sendiri. Pembaca akan diajak memasuki teks-teks Nietzsche sendiri dan kemungkinan-kemungkinan tafsir yang bisa dibuat atasnya.


Riwayat Api Penyucian dalam Kitab Suci dan Tradisi
Albertus Purnomo, OFM
(Yogyakarta: Kanisius, 2017)