BUKU

Korupsi Kemanusiaan:
Menafsirkan Korupsi (dalam) Masyarakat
Al. Andang Binawan (editor)
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006, 260 p.)

Buku bertopik Korupsi ini merupakan kumpulan 12 tulisan, utamanya dari kalangan civitas academica STF Driyarkara – Jakarta dan dipersembahkan sebagai kado ulang tahun Romo Franz Magnis-Suseno yang ke-70. Dalam buku ini pemahaman korupsi tidak hanya dimaksudkan sebagai korupsi berbentuk uang atau harta material namun korupsi dipahami sebagai sebuah proses “pembusukan” termasuk proses pembusukan dalam berbahasa maupun dalam berpikir. Beberapa penulis dalam buku ini mengkritisi kehidupan yang dicengkeram oleh kapitalisme menimbulkan dampak negatif berupa; (1) berkembangnya individualisme (2) berkembangnya budaya hidup instant dan konsumtif (3) orientasi ke arah material/uang (4) teknologi yang konsumtif dan rakus (5) lunturnya kontrol sosial (6) alienasi (7) hilangnya spiritualisme masyarakat.

Dari sisi kultur lokal di Indonesia, budaya “rikuh pekewuh” berdampak negatif dengan munculnya budaya permisif terhadap perilaku korupsi. Demikian pola penggunaan bahasa yang cenderung “lunak” atau diperhalus disadari atau tidak menimbulkan dampak seolah-olah korupsi sebagai sesuatu penyimpangan yang bisa diterima, misalnya korupsi diganti penyimpangan prosedur atau penyalahgunaan wewenang dan lain-lain. Dengan kondisi melemahnya nilai dalam masyarakat, kehidupan yang konsumtif dan kontrol sosial sangat longgar maka tidak mengherankan bila korupsi merajalela, baik korupsi yang terkait dengan materi maupun korupsi dengan manipulasi informasi dst.

Dalam buku ini beberapa penulis juga memberikan solusi salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kehidupan kepada manusia seperti ide eksistensialisme Kierkegaard, filsafat Lao Tze dari Tiongkok, Hermeneutika dari McLean dll. Solusi yang ditawarkan dalam hal ini lebih banyak terkait dengan penanaman nilai-nilai itu sendiri karena memang hal inilah yang menjadi titik konsentrasi dari para penulis yang berlatar belakang filsafat. Seperti kata istilah” Korupsi itu muncul dari pikiran, maka untuk mencegah korupsi, pola pikir itu sendiri yang harus lebih dulu dibenahi”. [Edy]


Menggagas Manusia Sebagai Penafsir
Thomas Hidya Tjaya & Justinus Sudarminta (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2005, 190 p.)

Bacaan filsafat ini merupakan sebuah refleksi secara fisiologis dri berbagai segi kehidupan manusia. Dalam upayanya untuk semakin mengenal dirinya secara lebih baik dan memahami berbagai gejala yang dialami dalam interaksinya dengan alam semesta maupun dengan kenyataan sosial di sekitarnya. Juga interaksinya dengan Sang Pencipta, manusia harus menafsirkan apa yang dialami. Menafsirkan sebagai bagian dari kegiatan memahami, berkomunikasi dan hidup bersama dengan yang lain, merupakan kegiatan hakiki manusia bahkan melekat pada eksistensi manusia sendiri sebagai mahluk berbahasa.


Petualangan Intelektual:
Konfrontasi dengan Para Filsuf
dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern
Simon Petrus Lili Tjahjadi
(Yogyakarta: Kanisius, 2004, 360 p.)

Telaah kritis atas pemikiran para filsuf sejak zaman Yunani Kuno sampai abad pertengahan. Komentar-komentar logis dan kritis diberikan tidak untuk menilai, melainkan untuk membuka wawasan/cakrawala pemikiran para pembaca agar terpacu untuk terus belajar dan semakin menjadi Pecinta Kebijaksanaan (philosophia).


Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Thomas Hidya Tjaya
(Jakarta: KPG, 2004, 196 p.)

Buku ini mengankat tema “Pergulatan menjadi diri sendiri”, suatu tema yang cukup sentral dalam pandangan Kierkegaard dan relevan bagi setiap orang.