BUKU

Sesudah Filsafat:
Esai-Esai untuk Franz Magnis-Suseno
I. Wibowo & B. Herry-Priyono (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2006, 392 p.)

Pada mulanya Romo Magnis hanya sebuah nama, sampai kami menjadi murid-muridnya di STF Driyarkara, sebuah Akademi Filsafat yang ikut ia dirikan pada tahun 1969, dan ikut ia rawat sampai hari ini dengan ketelitian seorang penjaga malam. Untuk apa? Yang tak mungkin ia sembunyikan adalah cita-citanya mendidik para muridnya berpikir, dan berpikir secara ketat. Dalam kelakar ia sesekali berujar, yang kira-kira dapat diringkas begini: “berpikir bukan tindak kriminal”. – Kata Pengantar

Buku ini merupakan ungkapan syukur dan terima kasih dari beberapa bekas muridnya yang telah menghirup filsafat dan menjadikan nafas mereka, baik yang kemudian menjadi filsuf maupun yang memasuki cabang pengetahuan lain.


Menalar Tuhan
Franz Magnis-Suseno
(Yogyakarta: Kanisius, 2006, 224 p.)

Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad 21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filsuf. Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan. Isinya bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan. Buku ini tidak mau “membuktikan” adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa di abad 21 pun manusia tetap dapat percaya kepada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.


Pijar-Pijar Filsafat:
Dari Gatoloco ke Filsafat Perempuan,
dari Adam Müller ke Postmodernisme
Franz Magnis-Suseno
(Yogyakarta: Kanisius, 2005, 304 p.)

Buku ini membahas masalah agama dan rasionalitas, teknologi, dan paham Jawa tentang sangkan paran serta beberapa pokok pemikiran tokoh-tokoh filsafat.


Dunia, Manusia, dan Tuhan:
Antologi Pencerahan Filsafat dan Teologi
Pesta 80 Tahun P. Louis Leahy, SJ
J. Sudarminta & S.P. Lili Tjahjadi (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2008, 293 p.)

Buku ini ditulis oleh dua belas sahabat Louis Leahy. Kita mengenal Leahy sebagai salah seorang profesor filsafat dan ahli teologi terkemuka di Indonesia yang pada tahun 2007 berulang tahun ke-80. Sebagai “buku pesta” (Festschrift) antologi yang terdiri dari dua belas esai ini memperkaya wawasan tidak hanya mereka yang menggeluti bidang filsafat dan teologi, tetapi juga setiap orang, khususnya umat beragama yang ingin mencari jawaban atas pertanyaan mendasar tentang kehidupan manusia dengan segala tragikanya berhadapan dengan imannya pada Tuhan di satu pihak dan pelbagai masalah yang dapat menggoyahkan iman itu di pihak lain.