BUKU

Menjadi Manusia:
Belajar dari Aristoteles
Franz Magnis-Suseno
(Yogyakarta: Kanisius, 2009, 79 p.)

Menjadi manusia utuh, disadari atau tidak, menjadi cita-cita kita, manusia. Di kiri kanan kita menjumpai manusia-manusia yang bengkok, miring, berat sebelah, aneh, setengah lumpuh. Dan tidak utuh. Lebih mengkhawatirkan lagi, kita tahu bahwa kita sendiri terancam oleh kemiringan itu, bahwa kita sendiri sering lumpuh secara fisik atau jiwani, bahwa hidup kita jauh di bawah kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya terbuka bagi kita. Kita tidak utuh. Aristoteles persis menawarkan itu: Jalan untuk menjadi utuh. Barangkali kita ragu apakah seorang pemikir yang hidup lebih dari 2300 tahun lalu masih dapat menunjukkan suatu jalan bagi kita, manusia abad ke-21. Tetapi Aristoteles, bersama Plato, sampai hari ini menjadi acuan pemikiran para filosof. Buku kecil ini memperkenalkan pemikiran Aristoteles, khususnya dalam bidang moralitas dalam bahasa yang tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Kedua, etika Aristoteles di zaman sekarang pun amat bermanfaat bagi kita. Aristoteles menulis etikanya agar mereka yang membacanya dapat membangun suatu kehidupan yang bermakna dan bahagia. Dan itu dicapai dengan memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengembangkan diri, dapat membuat potensi-potensinya menjadi nyata, dan bagaimana karena itu ia menjadi pribadi kuat. Menjadi pribadi kuat berarti berhasil dalam kehidupan sebagai manusia. Itulah yang membuat kita bahagia dan itulah yang mau ditunjuk oleh Aristoteles.


Demokrasi Deliberatif:
Menimbang “Negara Hukum” dan “Ruang Publik”
dalam Teori Diskursus Juergen Habermas
(dilengkapi wawancara dengan Prof. Dr. Juergen Habermas)
F. Budi Hardiman
(Yogyakarta: Kanisius, 2009, 246 p.)

Buku ini merupakan sebuah analisis sistematis dan kritis atas Teori Diskursus Habermas dan model “demokrasi deliberatif”-nya. Setelah mengantar ke dalam Teori Diskursus dan penerapannya pada hukum dan negara hukum, penulis mengupas secara komprehensif pemikiran Habermas mengenai sirkulasi deliberasi politis dari kelompok-kelompok civil societydalam ruang publik menuju ke dalam sistem politik, termasuk problem agama dalam ruang publik dan gerakan-gerakan protes. Untuk memastikan pendiriannya, penulis menempatkan Teori Diskursus dalam konstelasi perdebatan antara liberalisme dan komunitarianisme di dalam filsafat politik kontemporer dan secara kritis memeriksa asumsi-asumsi Habermas untuk membuka diskusi lebih lanjut. Dilengkapi dengan teks hasil wawancara penulis dengan Habermas sendiri, buku ini menawarkan sebuah model menarik untuk pemahaman dan praktik negara hukum demokratis dalam masyarakat Indonesia pasca-Suharto. Sebuah bacaan wajib bagi para politikus, aktivis HAM, dosen, aktivis sosial dan hukum, mahasiswa dan masyarakat luas yang hendak memahami esensi demokrasi radikal dalam masyarakat majemuk.


Menuju Masyarakat Komunikatif:
Ilmu, Masyarakat, Politik & Postmodernisme
Menurut Juergen Habermas
F. Budi Hardiman
(Yogyakarta: Kanisius, 2009, 288 p.)

Juergen Habermas semakin besar pengaruhnya bagi perkembangan ilmu-ilmu sosial dan filsafat dewasa ini. Karya-karyanya yang terpenting seperti psikoanalisis Freud, materialisme sejarah, teori rasionalisasi Weber, krisis legitimasi dan juga postmodernisme, diulas dalam buku ini.

Melalui analisis kritisnya, Habermas memperlihatkan bahwa modernisasi, sejauh didominasi oleh sistem kapitalisme, mengandung cacat-cacat yang mendasar. Dengan mengutamakan segi-segi teknis dan instrumental dari pengetahuan dan tindakan birokratis, modernitas kapitalis mengikis segi-segi hakiki kehidupan sosial yang pada dasarnya bersifat komunikatif. Tidak hanya mengkritik paham kebebasan nilai ilmu-ilmu, teknokratisme, dan depolitisasi massa, dia juga mendiagnosis adanya krisis legitimasi dalam masyarakat dewasa ini dan membuka diskusi dengan pemikiran postmodern. Modernitas, menurutnya, adalah proyek yang belum selesai dan cacat-cacatnya harus diatasi dengan pencerahan lebih lanjut melalui “rasio komunikatif”.

Dari Teori Kritisnya dalam buku ini, kita dapat belajar banyak mengenai bahaya-bahaya serius yang akan menimpa sebuah masyarakat yang strategi pembangunannya diarahkan semata-mata demi akumulasi modal, birokratisasi, dan teknokratisasi sehingga menyingkirkan solidaritas sosial.


Kritik Ideologi:
Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan
Bersama Juergen Habermas
F. Budi Hardiman
(Yogyakarta: Kanisius, 2009, 254 p.)

Keyakinan dominan bahwa ilmu pengetahuan bersifat value-free dan disinterested mendapat goncangan yang keras dari filsuf Jerman kontemporer, Juergen Habermas. Penerus Teori Kritis Mazhab Frankfurt ini bahkan menelanjangi kepentingan-kepentingan yang beroperasi di dalam sains modern. Buku Kritik Ideologi ini merupakan sebuah ulasan komprehensif atas Teori Kritis Habermas pada permulaan karir intelektualnya. Setelah mulai dengan ulasan tentang akar-akar scientism dalam pemikiran Barat, penulis mengulas secara komprehensif ini pemikiran Mazhab Frankfurt dan paradigma baru yang dibawa oleh Habermas. Bagian pokok buku ini merupakan sebuah upaya untuk menyelami kritik ideologi yang dipraktikkan Habermas, dengan membongkar kepentingan teknis ilmu-ilmu alam, kepentingan praktis ilmu-ilmu kemanusiaan dan kepentingan emansipatoris ilmu-ilmu kritis, seperti teori-teori Marxis dan psikoanalisis Freud. Dengan jalan ini Habermas menerobos jalan pembaruan Teori Kritik Masyarakat dengan paradigma komunikasi.

Sebuah buku yang memberi road map rinci dan mendasar bagi mereka yang hendak mempelajari filsafat sains kontemporer, ilmu-ilmu sosial kritis dan berbagai problem kemanusiaan dalam masyarakat akibat dominasi sistem ekonomi kapitalis, seperti: alienasi, marginalisasi sosial, dan hegemoni sains.