BUKU

Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre
A. Setyo Wibowo & Majalah Driyarkara
(Yogyakarta: Kanisius, 2011, 228 p.)

“Sosok Sartre adalah sebuah provokasi. Tidak mungkin bersikap acuh tak acuh terhadapnya. Komitmen otentik Sartre terhadap kebebasan dan tanggung jawab menembus klise-klise filosofis dan keagamaan yang suka kita pasang untuk melindungi diri dari komitmen yang sungguh-sungguh.” — Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ

“Mau tidak mau, jika masih mau dijadikan gaya berfilsafat, eksistensialisme harus memasukkan yang lain dalam horizonnya. Sikap keras Sartre menolak causa sui (Tuhan, esensi) demi membela jati manusia sebagai por-soi justru secara kontradiktif meninggikan pour-soi sebagai causa sui. Satu-satunya yang esensial untuk eksistensi Absolutisme bertopeng kontingensi ini menutup subjek sartrian dalam referensi diri, dan terus menerus menidaki orang lain dengan penuh curiga. Padahal justru intrusi orang lainlah yang akan mencegah eksistensialisme berhenti seperti air yang menggenang.” — Dr. A. Setyo Wibowo, SJ

“Pandangannya tentang relasi antar manusia itu “bergerak” dari ciri utamanya sebagai konflik, menuju relasi timbal-balik, dan akhirnya cinta yang otentik. Jadi, pandangan Sartre tentang relasi antar manusia berkembang ke arah relasi manusiawi yang lebih positif dan optimis.” — Prof. Dr. Alex Lanur, OFM


Enigma Wajah Orang Lain:
Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas
Thomas Hidya Tjaya
(Jakarta: KPG, 2012, 178 p.)

Mengapa manusia tega saling bantai demi ideologi dan ajaran tertentu? Di manakah rasa kemanusiaannya? Apa yang dilihat oleh para algojo ini dalam dalam diri para korbannya? Tidakkah mereka sadar bahwa yang mereka bantai juga manusia sama seperti mereka? Mengapa manusia lain dipandang begitu rendah dan dianggap “lain” (other) begitu saja? Apa dasar keberlainan (otherness) ini?

Bagi Emmanuel Levinas, etika pertama-tama bukan menyangkut teori mengenai baik-buruknya tindakan tertentu; bukan juga apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan sebagai manusia. Etika merupakan relasi yang lahir dari pertemuan konkret dengan orang lain yang memiliki wajah. Sebagai jejak Yang-Tak-Terbatas (the Infinite), wajah orang lain tidak akan dapat dibunuh atau dihancurkan. Relasi etis terjadi ketika saya merasa terusik oleh kehadiran wajah orang lain yang menantang orientasi egoistic hidup saya atau mengusik kenyamanan dan kebebasan saya.

Buku ini menawarkan cara memandang dan berinteraksi dengan manusia lain yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari. Bukan gagasan atau pikiran kita mengenai orang lain itu yang menentukan, tetapi pertemuan sejati dengan orang lainlah yang patut kita alami.


Dari Kosmologi ke Dialog:
Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme
Karlina Supelli
(Bandung: Mizan, 2011, 279 p.)

Laplace bersabda, “daya-daya alam sendirilah yang akan melakukan koreksi ketika terjadi penyimpangan. Karena keseimbangan dinamis tatasurya adalah konsekuensi hukum-hukum fisika.” Lantas di mana posisi agama dan kitab suci harus kita tempatkan dalam soal pelik ini? Masih belum cukup. Melalui M-Theory dan Theory of Everything (Teori Segalanya), “tembok” energi yang menyembunyikan singularitas semesta dapat ditembus sehingga mimpi Einstein — untuk membaca pikiran Tuhan kala menciptakan alam semesta — mungkin dapat menjadi kenyataan, lalu ilmu pengetahuan berhenti berkembang dan manusia menjadi sama dengan Tuhan.

Itu semua jelas bicara ketegangan antara jelajah nalar dan cerapan keimanan. Antara memercayai perubahan dunia dengan fakultas rasio dan fakultas intuisi. Sementara di saat bersamaan, kebenaran yang dengan tergopoh kita kejar — tetap menjadi hantu yang berkelibat tapi tak pernah dapat dijerat. Dalam karya unggulan yang dianggit dari Nurcholish Madjid Memorial Lecture 2010 inilah, ketegangan itu coba dilerai dengan sebuah dialog berarus tenang namun menggendam. Semata demi memafhumi di mana batas untuk berpijak hingga takkan ada lagi fanatisme yang jumud dan akut.


Manusia:
Teka-Teki yang Mencari Solusi
Hommage untuk Prof. Dr. M. Sastrapratedja
A. Setyo Wibowo (editor)
(Yogyakarta: Kanisius, 2009, 308 p.)

Esai-esai dalam buku ini secara istimewa ditulis sebagai ungkapan terima kasih kepada M. Sastrapratedja bagi ulang tahunnya yang ke-65. Ia dikenal sebagai “penjaga” kawasan akademik dan intelektual yang disebut Filsafat Manusia dan Antropologi Filosofis. Itulah pintu gerbang untuk memahami siapa itu manusia dan mengapa ia tetap menjadi teka-teki bahkan bagi dirinya sendiri. Buku ini dihadirkan sebagai undangan kepada publik untuk merawat pencarian jawaban atas enigma yang bernama “manusia”.