BUKU

Mempertanyakan Magisterium
Dinamika Pemahaman Kuasa Mengajar Gereja
RD. Riki M. Baruwarso (editor)
(Jakarta: Penerbit Obor, 2015, 208 p.)

Seri Teologi Driyarkara 04

Sejauh mana ajaran Paus dan Para Uskup dianggap valid dan tidak sesat? Masih perlukah Magisterium Gereja? Sejauh mana dapat dibenarkan Gereja terlibat dalam bidang-bidang kehidupan yang secara formal berada di bawah otoritas sipil (Negara dan Pemerintah)? Apa persisnya relasi antara tradisi lisan dan kebenaran alkitabiah serta antara Magisterium dengan Kitab Suci?

Melalui buku ini, para penulis hendak mengajak pembaca untuk merenungkan secara kritis pertanyaan-pertanyaan di atas. Tulilsan-tulisan yang ada berusaha mengupas tuntas perihal Magisterium tidak dengan mentalitas fideistik, yakni hanya percaya saja tanpa bersikap kritis, melainkan mengajak pembaca untuk berpikir secara lebih kritis.


Markus:
Injil yang Belum Selesai
Martin Harun, OFM
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 272 p.)

Membaca Injil Markus dapat dilakukan secara sepotong demi sepotong, selama beberapa bulan, setiap hari hanya satu cerita singkat atau satu butir ajaran yang hendaknya sejenak direnungkan dan dibawa dalam doa. Injil Markus dapat juga dibaca dalam beberapa minggu saja, setiap hari satu bab; dibaca dengan penuh perhatian meskipun tidak ada waktu untuk merenungkan isinya satu demi satu. Injil Markus bahkan dapat dibaca dalam beberapa jam saja, sebagaimana kita membaca buku novel non stop. Masing-masing cara membawa keuntungan dan keindahan tersendiri. Buku ini menyangkut seluruh Injil Markus tetapi tidak memberi tafsiran tentang semua ayatnya. Di sini diberi tafsiran tersendiri tentang empat puluh bacaan terpilih, kurang lebih separuh teks injil. Separuhnya itu boleh dikatakan bagian terpenting bagi kehidupan gereja Katolik dan beberapa gereja Kristen lain sebab digunakan dalam liturgi Hari Minggu dan Hari Raya selama setahun (disebut tahun B). Referensi ke Hari Minggu/Raya yang bersangkutan dan juga kepada bacaan lain pada hari itu disajikan dalam catatan kaki. Barangsiapa ingin mempelajari dan mendalami Injil Markus beriringan dengan tahun liturgi B, entah secara pribadi atau sebagai persiapan untuk homili, khotbah, atau renungan, akan selalu menemukan bantuan di sini.


Bertarung dengan Allah
Albertus Purnomo, OFM
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 216 p.)

Krisis merupakan kesempatan yang diberikan Allah supaya manusia bisa menjadi manusia yang sejati dan utuh. Krisis adalah bagian dari proses hidup manusia yang mau memperkembangkan dan mendewasakan dirinya. Ini adalah tahapan kehidupan yang tidak bisa dihindari. Jadi, bukan tanpa maksud bahwa Allah menawarkan krisis kepada manusia. Apakah krisis itu mau diterima atau tidak, manusialah yang akhirnya harus memilih. Dalam krisis, orang harus berhadapan dengan dua wajah Allah, yaitu Allah yang mengasihi sekaligus Allah yang tampak tida menyenangkan. Allah menganugerahkan kesulitan dan penderitaan tanpa pembicaraan terlebih dahulu. Tidak semua orang bisa berhadapan dengan Allah yang seperti ini. Tetapi jika ingin menjadi manusia baru, orang harus berani bergumul dengan Allah yang memiliki dua wajah tersebut. Ia harus bertahan dalam pergumulan itu sampai akhirnya Allah memberkati dengan memberi jalan keluar yang baik. Orang perlu bertarung dengan Allah dalam krisis dan penderitaan sampai ia memperoleh mahkota kemenangan yaitu berkat berlimpah dari Allah.


Pejuang, Pemenang, dan Pecundang
Hitam Putih Manusia dalam Alkitab
Albertus Purnomo, OFM
(Yogyakarta: Kanisius, 2016, 198 p.)

Hidup adalah sebuah pertarungan. Hidup yang keras bergulir dari tahun ke tahun membuat manusia harus bertahan menjadi pejuang yang terkadang harus menyerang, bertahan dan menerapkan strategi-strategi agar tidak menjadi pecundang. Hidup adalah pertandingan tiada akhir.

Buku Pejuang, Pemenang, dan Pecundang menceritakan kisah hidup 8 tokoh besar dalam Perjanjian Lama yang disebut kembali dalam Perjanjian Baru. Mereka adalah Harun, Yitro, Yosua, Gideon, Samuel, Saul, Daud, dan Salomo. (Agata Vera – Koran Jakarta)